yang dimana aku di tempatkan dengan posisi yang seharusnya jatuh kepada lulusan Sarjana, tapi aku bisa menempatkannya hanya dengan tamatan Sekolah Menengah Atas.
Aku bangga tapi akupun masih ke kanak kanakan.
Aku yang tidak pasti jam berapa harus berangkat ke bandara, kadang aku harus berangkat ketika matahari terbit, kadang juga harus berangkat ketika matahari terbenam.
Awalnya aku bangga, aku senang melakukannya karena hanya orang tertentu yang bisa menempatkan posisi itu.
Teman temanku bangga kepadaku, bahkan banyak wanita yang me-nyukaiku.
Pada waktu itu, aku sangat banyak bersyukur kepada Tuhan kenapa orang sepertiku bisa menempatkan posisi itu.
Ramp dispatcher, itulah posisi yang saat itu aku raih
Singkatnya tugas ramp dispatcher itu sangatlah berat, seorang ramp dispatcher mempunyai hak atas kapan pesawat harus take off / landing.
Tidak heran seorang ramp dispatcher banyak mempunyai teman pilot/pramugari/dll
Pada akhirnya.
Rasa iri itu muncul, bukan.
Bukan iri terhadap profesi pilot, tapi aku iri terhadap teman temanku yang setiap kali aku harus berangkat kerja.
Mereka asik berkumpul, berdiskusi. Menikmati masa menganggur mereka dengan cara berkumpul.
Aku yang pada saat itu masih berusia 18 Tahun dan belum menemukan jati diri.
Harus bekerja disaat teman temanku asik berkumpul.
Aku bingung, aku bingung aku harus bekerja atau cabut hanya untuk berkumpul dengan teman temanku, who cares?
Toh aku bekerjapun uangnya hanya untuk foya foya, belum berfikir terlalu jauh untuk menata masa depan karena aku fikir berkumpul dengan teman teman itu lebih asik.
Benar saja. Disaat hatiku mulai bergjelokan untuk meninggalkan pekerjaan beberapa hari demi teman temanku.
Saat itu pula aku pun sempat mempunyai pacar, Mayda namanya
dia cantik, pengertian, suka dengan hal hal yang berbau hang out
Aku yang di kala itu mulai enggan berangkat kerja dan lebih memilih pergi hang out bersama mayda.
Sampai akhirnya rasa malas itu makin menjadi.
singkat cerita aku memutuskan untuk resign.
Tidak.
Aku tidak resign.
Aku hilang arah. Aku kabur, aku cabut seperti se-masa sekolah dahulu.
Sampai akhirnya namaku tidak terpampang di papan schedule kerjaku.
Dan saat itu juga aku tau.
Bahwa aku telah di keluargkan dari perusahaan tempatku bekerja.
Apakah aku menyesal?
Pada saat itu sama sekali tidak terfikir untuk menyesal.
Bahkan aku senang.
Senang karena bisa kembali berkumpul bersama teman teman baikku,
Aku mempunyai banyak waktu untuk berkunjung kerumah pacarku pada waktu itu.
Seminggu, dua minggu, sebulan, belum terasa aneh, aku masih sangat menikmati moment tersebut.
Pada akhirnya tepat di dua bulan setelah aku resign.
teman teman baikku sudah mulai sibuk, mereka mulai mencari jati dirinya.
Tapi aku?
Aku dengan sejuta kemalasanku yang sudah tertumpuk, sulit untuk mencari pekerjaan baru.
Aku tidak peduli, aku menganggap semuanya baik baik saja.
Tidak ada yang salah, aku masih mempunyai mayda. dia yang selalu ada untukku
Pada akhirnya setelah semuanya benar benar sibuk dengan pekerjaannya masing masing.
Aku hanya mempunyai satu pegangan.
Ya betul.
Mayda.
Dia yang pada saat itu masih selalu ada ketika aku butuh sandaran.
Sampai akhirnya Mayda yang selalu support semua kebutuhanku dari A sampai Z.
Tiba saatnya aku mulai berfikir.
wtf.
Aku tak bisa seperti ini terus menerus.
Aku harus bangkit, tapi mungkin Tuhan marah.
Marah karena aku mungkin kurang bersyukur dengan apa yang Tuhan beri pada saat itu.
Kemarahan Tuhan tidak berhenti sampai disini.
Pada suatu ketika terjadi masalah besar yang terjadi pada mayda denganku.
Bukan masalah yang dimana salah satu pihak memainkan perasaan.
Ini lebih dari sekedar masalah, ini bencana.
Dan benar saja.
Tuhan tidak mendukungku saat itu.
Tuhan masih marah kepadaku.
Tuhan memutuskan hubunganku dengan mayda.
Benar saja itu terjadi di malam pergantian tahun 2017, yang dimana orang orang harusnya menikmati pergantian tahun dengan meriahnya petasan yang ada di langit,tapi tidak denganku
Aku harus ber-urusan dengan Pihak berwajib karena masalahku dengan mayda.
Aku hanya bisa sabar menerima kenyataan,
Saat malam pergantian Tahun baru terjadi, disitu pula aku tidak mempunyai siapa siapa.
Aku sendiri, tidak ada yang mendukungku kecuali mama.
Iya mama yang seringkali aku bikin naik darah.
hanya mama yang saat itu bisa aku sandarkan.
Dia tidak pernah benci kepadaku.
Aku tau dia marah, tapi mama selalu saja sayang kepadaku.
Saat itu Tuhan mungkin masih marah kepadaku,
tapi Tuhan saat itu masih menitipkan mama untuk menjagaku.
mami memang terbaik.
Dia ada, dia selalu siap siaga. dia memang marah.
Tapi mama tidak pernah memendam rasa benci kepadaku.
Masalah aku dengan mayda selesai.
Tapi ada masalah baru dengan mama.
0 komentar:
Posting Komentar